DAMPAK PUTUS CINTA PADA KONDISI PSIKOLOGIS ANAK MUDA
Stenberg
(1988) mengatakan cinta adalah bentuk emosi manusia yang paling dalam dan
paling diharapkan. Manusia mungkin akan berbohong, menipu, mencuri dan bahkan
membunuh atas nama cinta dan lebih baik mati daripada kehilangan cinta. Cinta
dapat meliputi setiap orang dan dari berbagai tingkatan usia.
Menurut
Master dkk (1992) mendefinisikan cinta sebagai tugas yang sulit. Disamping
mencintai pasangannya yaitu baik lelaki maupun wanita. Manusia dapat mencintai
anak maupun orang tua, saudara, hewan kesayangan, negara atau Tuhan sama
seperti mereka mencintai makanan kesukaan, pelangi dan olahraga favoritnya.
Sedangkan menurut Hendrick dan Hendrick (1992), tidak ada satupun fenomena yang
dapat menggambarkan bagaimana itu cinta, pada akhirnya cinta merupakan
seperangkat keadaan emosional dan mental yang kompleks. Pada dasarnya tipe-tipe
cinta yang dialami masing-masing individu berbeda-beda bentuknya dan
berbeda-beda pula kualitasnya.
Di
dalam cinta tersebut, konsep cinta menurut Stenberg ternyata memiliki 3
komponen yang dianggap paling kuat yaitu keintiman (intimacy), gairah (passion),
dan komitmen (commitment). Intimacy meliputi rasa ingin selalu dekat,
berhubungan, membentuk ikatan, keinginan memberi perhatian kepada yang
dicintai. Passion meliputi ekspresi dari hasrat dan kebutuhan seperti harga
diri, kasih sayang, dominansi, pengasuhan, dan kebutuhan seksual. Kemudian
untuk commitment merupakan suatu keputusan yang diambil seseorang bahwa dia
mencintai orang lain dan secara berkesinambungan akan tetap mempertahankan
cinta tersebut. Hal ini adalah komponen kognitif utama dari cinta.
Lalu,
melihat banyak kasus percintaan yang dialami oleh anak muda saat ini banyak
yang memaknainya terlalu berlebihan. Dalam artian, mereka menempatkan sebuah
porsi yang tidak seharusnya diberikan kepada satu sama lain dalam keadaan
mereka yang juga sebenarnya belum mampu untuk melakukan itu semua. Hal ini sering
ditemukan kepada mereka yang sedang dalam menjalin hubungan pacaran.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paramitha
dan Vania pada tahun 2019 menunjukkan dampak psikologis yang dialami dibagi
menjadi dua yaitu dampak psikologis positif dan dampak psikologis negatif.
Dampak psikologis negatif yang muncul meliputi ketidakstabilaan emosi, stres,
kesedihan, perasaan kacau (labil). Dampak negatif temuan baru yaitu perasaan
kebencian. Sedangkan pada dampak psikologis positf yang muncul meliputi subjek
lebih meningkatkan tingkah laku beragama.
Sangat banyak kasus yang dapat kita temukan di sekitar
kita dalam konteks terserangnya psikologis seseorang karena putus cinta. Salah
satunya yang belum lama terjadi, di daerah saya sekitar satu bulan lalu
terdapat seorang anak muda yang memutuskan untuk melakukan bunuh diri
dikarenakan ditinggal menikah oleh pacarnya padahal ia tidak lama lagi akan
menjalani wisuda kelulusan. Hal ini menandakan bahwa mereka yang telah
menjalani komitmen, ikatan, serta unsur-unsur cinta dalam suatu hubungan justru
dapat menjadikan pukulan terhadap individu ketika apa yang telah mereka
usahakan dan harapkan tidak dapat terwujud sesuai dengan apa yang mereka atau
salah satu inginkan. Maka sesungguhnya, makna putus cinta sebenarnya adalah
bentuk pembelajaran agar mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain dan untuk
lebih memperbaiki diri sendiri.
Daftar Pustaka
http://repository.uin-suska.ac.id/6989/3/BAB%20II.pdf
http://repository.unika.ac.id/20978/
https://gaya.tempo.co/read/1111419/pria-lebih-rentan-bunuh-diri-paska-putus-cinta-cek-sebabnya
Comments
Post a Comment